Kajian Psikolinguistik Kilir Lidah

Selasa 25 Nov 2025 - 22:20 WIB
Reporter : Yuda Pranata
Editor : Yuda Pranata

Suku Kata yang Terselip

Terdapat juga kekeliruan unit susunan suku kata. Contoh data yang ditemukan adalah salah satu penutur mengucapkan kirtis yang maksudnya adalah kritis.

Kekeliruan suku kata ini terjadi karena pertukaran posisi unsur bunyi dalam suku kata, khususnya konsonan awal /kr/ yang berubah menjadi kir lalu kis. Kekeliruan ini muncul karena beban kognitif penutur dalam menjelaskan permasalahan yang ditanyakan.

Selain itu, contoh lain yang juga ditemukan adalah ketika penutur mengucapkan kata jabat yang maksudnya adalah jawaban. Suku awal ja-ba tertata ulang sehingga muncul bentuk jabat.

Kesalahan terjadi ketika penutur keliru mengambil potongan suku kata yang salah dari bentuk yang tersimpan dalam leksikon mental. Faktor kekeliruan tersebut adalah penutur berbicara dengan tergesa-gesa sehingga kata-kata yang diucapkan tidak keluar dengan baik.

Salah Pilih Kata

Kekeliruan dalam pemilihan kata terjadi dalam tataran semantikkarena adanya perbedaan konsep antara apa yang ingin dituturkan dalam pikiran dengan yang diucapkan (Zulfa dkk., 2023).

Data yang ditemukan adalah salah satu penutur mengucapkan sadar yang maksudnya adalah sabar. Penutur sempat memilih kata yang sama sekali tidak berhubungan secara fonologis dengan kata yang dimaksud.

Hal ini menandakan kegagalan dalam memilih kata yang tepat dari leksikon mental pada tahap konseptualisasi, lalu penutur langsung mengoreksinya. Kekeliruan tersebut disebabkan karena penutur berbicara tergesa-gesa sehingga menyebabkan kata yang diolah oleh otak tidak keluar dengan baik saat diucapkan.

Di Balik Kekeliruan Kecil, ada Cerita tentang Otak Manusia

Meski kelihatannya remeh, kilir lidah sebenarnya menyimpan informasi menarik mengenai proses mental manusia. Dalam psikolinguistik, fenomena ini dijelaskan melalui tahapan produksi ujaran.

Meyer (dalam Dardjowidjojo, 2008) menyebut bahwa produksi ujaran mencakup proses konseptualisasi yang merencanakan pesan, formulasi yang memilih kata dan menyusun struktur bunyi, serta artikulasi yang merealisasikan ujaran.

Jika salah satu tahap terganggu, meski sedikit saja, hasilnya akan berbeda dari apa yang sudah direncanakan karena prosesnya begitu cepat.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tekanan situasi, beban kognitif, dan kecepatan berpikir sangat memengaruhi kelancaran seseorang saat berbicara.

Dalam kondisi ketika pembicara harus merespons dengan cepat, otak bekerja ekstra keras untuk menyusun ide sekaligus memilih kata yang tepat, sementara lidah harus mengikuti ritmenya.

Ketika kedua proses itu tidak sejalan, terutama dalam situasi penuh tekanan, peluang terjadinya kilir lidah menjadi jauh lebih besar. Kesalahan kecil seperti bunyi yang tertukar atau kata yang meleset bukanlah tanda kurangnya kemampuan berbahasa, melainkan cerminan bahwa otak manusia sedang berusaha mengejar banyak hal dalam waktu yang sangat singkat.

Kategori :