Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Megathrust dan Tsunami

Sekprov Lampung Marindo Kurniawan mengikuti rapat virtual kesiapsiagaan menghadapi potensi megathrust dan tsunami, Kamis (28/8). -FOTO DOK. BIRO ADPIM -
Dengan langkah tersebut, Pemprov Lampung memastikan masyarakat pesisir lebih siap menghadapi potensi ancaman. “Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Melalui teknologi, infrastruktur, edukasi, dan kolaborasi, kita bisa lebih tangguh menghadapi bencana,” demikian keterangan resmi Pemprov Lampung.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali memperingatkan masyarakat tentang potensi bencana besar yang mengancam wilayah Indonesia akibat aktivitas Megathrust.
BACA JUGA: Pembiayaan Guru PAI untuk PPG Diharapkan Bisa Tingkatkan Kualitas
Letak geografis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia –Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia– menjadikan negara ini sangat rawan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Nuraini Rahma Hanifa menyebut bahwa salah satu segmen Megathrust yang menyimpan potensi bahaya besar berada di selatan Pulau Jawa dan meluas hingga Selat Sunda.
Jika segmen ini “pecah”, diperkirakan dapat memicu gempa bumi dahsyat dengan magnitudo hingga 8,7 dan menimbulkan tsunami setinggi 20 meter di beberapa wilayah.
’’Energi tektonik yang terus menumpuk ini, suatu saat akan dilepaskan melalui pergerakan mendadak yang menyebabkan guncangan hebat atau gempa bumi. Guncangan besar itu lalu mendorong kolom air laut dan memicu gelombang tsunami ke segala arah,” jelas Nuraini.
Menurut simulasi BRIN, wilayah pesisir selatan Jawa akan menjadi yang pertama terdampak dalam waktu 40 menit setelah gempa.
Kabupaten Lebak, Banten bahkan bisa terkena dalam waktu hanya 18 menit. Gelombang kemudian akan menjalar ke arah utara melalui Selat Sunda, menghantam pesisir Banten, Lampung, hingga mencapai Jakarta dalam waktu sekitar 2,5 jam.
“Lampung yang menghadap langsung ke Selat Sunda akan terkena semua. Tinggi gelombangnya bervariasi, namun tetap signifikan,” ungkap Nuraini.
Untuk wilayah Jakarta, tsunami diperkirakan mencapai ketinggian 1 hingga 1,8 meter, terutama di kawasan pesisir utara. Meski tidak setinggi di selatan Jawa, ancaman ini tetap berbahaya mengingat tingginya kepadatan penduduk dan kondisi tanah yang bisa memperparah dampak guncangan.
Selain itu, BRIN menekankan pentingnya upaya mitigasi seperti retrofitting atau penguatan struktur bangunan, khususnya di kawasan urban seperti Jakarta. Hal ini krusial guna mengurangi potensi kerusakan dan korban jiwa akibat gempa dan tsunami.
Nuraini juga menambahkan bahwa gelombang tsunami bisa mencapai 3 hingga 15 meter di kawasan Selat Sunda, tergantung topografi dan kedalaman laut. Sementara itu, BRIN mengajak masyarakat di seluruh wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Megathrust ini.
“Dampaknya bukan hanya pada kerusakan fisik, tetapi juga pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kita harus siap menghadapi potensi bencana besar ini,” pungkasnya.
BACA JUGA:PalmCo Siapkan Program PLTS untuk Rumah Ibadah, Sasar 4.000 Penerima Manfaat