Hobi Jadi Cuan, Warga Jember Raup Jutaan Per Bulan dari Ternak Murai
JADI HOBI: Berawal dari hobi, Supriyadi berternak burung murai batu hingga menjadi ternak.-FOTO HISYAM NUGROHO/BERITASATU -
JEMBER – Supriadi, warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur berhasil mengembangkan usaha ternak burung murai batu. Awalnya Supriyadi memulai usahanya itu dari hobi. Dari usaha ternak murai batu tersebut, ia kini mampu mendapatkan keuntungan hingga jutaan rupiah setiap bulannya.
Tidak semua orang bisa sukses beternak murai batu. Namun bagi Supriadi, hobi memelihara burung justru berubah menjadi ladang cuan alias untung yang menjanjikan. Ia mengaku mampu menjual hingga 20 anakan murai batu setiap bulan dengan harga antara Rp 350.000 hingga Rp 400.000 per ekor.
Awalnya Supriyadi hanya memelihara atu pasang murai batu. Dari pasangan itu kemudian berkembang biak. “Awalnya saya nyoba-nyoba. Dahulu saya hanya punya satu pasang. Ternyata kok menghasilkan, kemudian saya lanjut,” ungkap pria berkumis ini.
Setelah dirawat dengan baik, kini sudah ada sekitar 26 pasang. Supriadi membuka usaha ternak murai batu dengan memanfaatkan rumah kosong yang kemudian ia sulap menjadi kandang.
Menurutnya, kunci keberhasilan ternak murai batu terletak pada perawatan yang telaten. Kemudian kebersihan kandang harus dijaga agar burung terhindar dari penyakit. Selain itu, pemberian pakan dilakukan rutin setiap pagi dan sore dengan memberikan jangkrik atau ulat.
“Kalau kandang bersih dan pakan teratur, burung akan sehat dan tidak stres. Itu yang membuat kualitas anakan bagus dan cepat laku di pasaran,” jelasnya.
Usaha ternak murai batu di Jember ini dinilai masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Supriadi berharap semakin banyak warga yang bisa memanfaatkan peluang usaha ini sebagai tambahan penghasilan. Pembeli pun dating tak hanya dari Jember namun juga dari kota sekitar seperti Situbondo.
Ridho salah satu pembeli mengaku dirinya membeli burung Supriadi agar bisa langsung mengetahui indukan burung yang bagus.
“Kalau kita beli di pasar kita tidak tahu anakan (burung) ini dari indukan yang bagus atau tidak. Kalau kita beli langsung ke peternak kita tahu dan lihat langsung,” kata Ridho.(beritasatu/nca)