Ramadan Berlalu, Kebaikan Terus Melaju

Guru Al-Wildan Islamic School 14 Bumi Mutiara Bogor, Dai BRTV, penerjemah, founder Sharia Community, Khalifurrahman Fath.-Foto Ist-

Jabir ibn Abdillah RA. mengatakan, “Siapa yang membaca doa ini di malam terakhir Ramadan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: menjumpai Ramadan mendatang atau pengampunan dan rahmat Allah SWT.”

Jika demikian, di akhir Ramadan ini, haruskah kita bersedih atau bergembira? Guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., MA, dalam sebuah kesempatan mengatakan, “Apabila telah melihat hilal bulan Syawal, maka kita diperintahkan untuk iftar. Di situlah mulai kebahagiaan. 

Ada kewajiban membayar zakat fitrah yang harus dibayar, supaya semua merasakan kebahagiaan. 

Ada takbir sebagai syiar Idul Fitri. Kita harus bahagia menyambut Idul Fitri, dengan tetap membawa jiwa dan semangat Ramadan, di mana kita menjaga diri dari perbuatan buruk dan melakukan kebaikan, dari membaca Alquran, bersilaturrahmi, berbagi dengan yang tidak punya, bangun malam, berzikir, dan sebagainya. Semua itu tetap dikerjakan di bulan-bulan sesudahnya.”

Dengan demikian, kesedihan atas kepergian Ramadan bukan soal waktu. Sebab, waktu akan terus bergulir. Itu sudah menjadi sunnatullah. 

Hal yang pantas ditangisi dari kepergian Ramadan adalah hilangnya kesempatan emas untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT. 

Tentu saja, itu akan terjadi apabila sudut pandang terhadap rahmat dan ampunan-Nya kita persempit hanya di bulan Ramadan. 

Adapun bagi yang melihat luasnya rahmat dan ampunan Allah, seluruh bulan akan terlihat seperti Ramadan. Baginya, Ramadan boleh berlalu, namun kebaikan harus tetap melaju. (gie/fik)

 

Tag
Share