Jamaah Antusias Mengejar Rida Ilahi
Radar Lampung Baca Koran--
“Kami bukan orang Ciputat, bukan orang Indonesia. Kami hamba Allah yang punya kewajiban ibadah dan berdakwah ke seluruh alam. Karena itu kami hadir jauh-jauh ke sini untuk menuju jalan Allah,” katanya.
Doanya pun sederhana namun mendalam, agar Allah menurunkan hidayah bagi seluruh umat manusia. Sebab tanpa hidayah, manusia akan tersesat dan tak mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil.
Usai kegiatan ini, Mulyadi dan rombongannya belum akan pulang. Mereka baru saja menyelesaikan gerak tiar selama empat bulan dan masih memiliki sisa waktu sekitar 20 hari yang rencananya akan dihabiskan berdakwah di wilayah Lampung.
Senada dengan itu, Edi, jemaah asal Simeulue, Aceh, menempuh perjalanan selama lima hari melintasi laut dan daratan demi bisa hadir di Kota Baru.
Bersama rombongannya, ia melewati perjalanan panjang dengan segala keterbatasan, bahkan harus singgah di beberapa tempat karena berasal dari wilayah kepulauan. “Ini mudah-mudahan jadi asbab hidayah seluruh alam,” ucap Edi penuh harap.
Baginya, pertemuan seperti ini adalah sumber semangat bagi umat Islam agar terus istiqamah dalam memperjuangkan agama. “Mudah-mudahan umat Islam ke depan senang, selalu semangat dalam memperjuangkan agama,” katanya.
Doa terbesarnya untuk Tabligh Akbar di Lampung ini adalah agar pertemuan tersebut membawa keberkahan dan pertolongan hidayah. “Semoga membawa berkah, hidayah, jadi asbab hidayah seluruh alam. Insyaallah.”
Di balik padatnya kendaraan dan ribuan jemaah yang hadir, tersimpan kisah-kisah perjalanan penuh pengorbanan, keikhlasan, dan harapan.
Lebih dari sekadar agenda keagamaan, Tabligh Akbar Indonesia Berdoa 2025 juga menjadi penggerak roda ekonomi lokal. Aktivitas transportasi, kuliner, hingga jasa penunjang lainnya menggeliat seiring derasnya arus kedatangan jemaah.
“Acara ini dihadiri puluhan ribu jamaah dari seluruh provinsi di Indonesia dan juga mancanegara. Dari lima benua hadir semua, Australia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia,” ujar Umar (41), salah satu panitia kegiatan.
Ia mengaku, rencana awalnya hendak digelar di Bengkulu. Namun, karena belum siap, akhirnya Lampung dijadikan pilihan.
Peserta berdatangan dari berbagai kalangan. Tampak beragam wajah dan latar. Suara pengeras dari panggung utama membelah udara siang yang terik. Ceramah dan ajakan dakwah menggema ke penjuru tenda yang berdiri di setiap sudut.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Muhammad Ramli (35) tampak berjalan santai sambil memperbaiki ikatan sorbannya. Ia menyempatkan bercerita mengenai alasan dirinya mengikuti kegiatan dakwah seperti ini. Kisahnya berawal dari masa SMP. Kala itu, ia rajin mengikuti pengajian, bahkan hingga larut malam. Namun, kakinya masih terasa berat untuk melangkah ke masjid ketika waktu salat tiba.
“Saya sudah sering ikut pengajian ke mana-mana, tapi salat lima waktu masih bolong-bolong. Saya ingin ikut kajian apa gitu, yang habis ikut itu bisa langsung rajin ibadah. Dan akhirnya, ikut tabligh. Begitu beres tiga hari, saya langsung rajin salat. Aneh, tapi itu yang saya rasakan,” tuturnya.
Namun Ramli sadar, perubahan itu baru sebatas semangat awal. Semangatnya cepat naik, tapi cepat juga turun. Satu minggu berlalu, salatnya mulai goyah lagi. “Ibarat HP yang lowbatt parah, ngecas tiga hari cuman dapat 20 persen, terus lowbatt lagi,” lanjutnya sambil tertawa.