"Kau percaya padaku kan? Cinta adalah sebuah kasih sayang, kejujuran, pengertian, kepercayaan dan pengorbanan. Meski kita beda, tapi kita adalah beda yang sama." Ucapnya sembari menatap mataku.
Keningku mengkerut heran. Beda yang sama. Apa maksud dari kalimat itu? Pria itu melanjutkan pembicaraannya.
"Beda yang sama. Maksudnya meskipun kita berbeda keyakinan, tapi kita sama-sama saling mencintai. Jangan khawatir dengan perbedaan karena setiap perbedaan akan dipersatukan. Entah dengan cara apa, tapi Tuhan pasti tahu caranya."
Tiba-tiba pria ini tertawa yang semakin menambah kebingungan di dalam benakku.
Apakah pria di sampingku ini sungguh Kak Naufal? Setelah perbincangan sengit kenapa seakan ini hal lucu.
"Hahahaha......... Sudahlah kenapa jadi mellow gini sih. Kenapa kamu nangis? Dasar cengeng, seperti anak kecil saja kamu ini. Buat santai aja nanti juga ada jalan untuk bersama. Lihat bintang itu."
BACA JUGA:Lamban untuk yang Berpulang
Benar katanya. Jangan terlalu dipikirkan. Bukankah Tuhan selalu memberi masalah sepaket dengan solusi.
Aku pun menyeka air mata yang terus mengalir tiada henti sembari berkata, "ahh kamu, di saat seperti ini malah ngajak bercanda." Pria itu hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang ku. "Arahkan pandanganmu ke sana!"
Pria itu menunjuk sesuatu dan mengarahkan pandanganku ke langit yang penuh akan bintang bergemerlap di langit malam.
"Kenapa?" Tanyaku. "Indah bukan...
Meski di sekelilingnya tak begitu terang, tapi bintang yang itu sangatlah terang."
Bingung. Bola mataku memutar mencari keberadaan sang bintang. Tak ada. Aku tak menemukannya.
"Kenapa kau melihatku, harusnya kau memberi tahuku di mana bintang itu berada." pintaku kepada pria itu.
"Kenapa kau harus mencarinya. Bintang yang indah dan paling bersinar itu berada di depan mataku. Kau Apriliaku sayang." tawa pun kembali tercipta dengan sedikit gurauan. Sejenak permasalahan pun hilang terganti oleh keindahan malam.
****
Bulan berganti tahun. Dan kisah itu menjadi sebuah sejarah antara aku dan pria itu. Aprilia dan Naufal. Tak ada yang tahu tentang akhir dari kisah cinta ini. Biarlah waktu berjalan dengan sendirinya. Biar waktu memutuskan untuk berpihak pada cinta atau memilih berpisah karena cinta.
****
Matahari dan bulan tak pernah bisa berada di satu tempat. Begitulah kata banyak orang. Pagi hingga menjelang petang, matahari menempati singgasana di langit. Namun, ketika gelap malam datang, bulan mengambil alih singgasana.
Matahari dan bulan yang tak pernah bisa berada di satu tempat. Begitulah kata banyak orang. Sayangnya, mereka lupa. Ada satu situasi yang menjadikannya di tempat yang sama bernama ' gerhana'.
Benar.
Gerhana menjadi penyatuan dan bukti bahwa kita bisa menyaksikan matahari dan bulan di tempat yang sama.
Itu berarti masihkah ada kesempatan untukku membuktikan bahwa cintaku bisa bersatu?
Entah masuk akal atau tidak perumpamaan itu. Hanya terlintas dalam benak begitu saja ketika aku memikirkan hubungan asmaraku.
Di saat takdir mempermainkan manusia. Di saat dua orang yang tengah dimabuk cinta harus menelan pahitnya luka. Kami tak bisa bersama dengan alasan sederhana. Sederhana memang, tapi begitu bahaya. Cinta kami berbeda.
Terkadang terbesit di benakku. Apa masih bisa dikatakan cinta jika aku mengabaikan hal paling sakral bagi manusia?