Neraca Dagang Baja RI Catatkan Surplus
Gulungan besi baja. --FOTTO JG/AFRIADI HIKMAL
JAKARTA – Kementerian Perindustrian mencatat kinerja industri baja nasional menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini ditandai lonjakan ekspor dan penurunan impor yang mendorong perbaikan neraca dagang baja.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menjelaskan, volume ekspor baja Indonesia meningkat dari 9,3 juta ton pada 2020 menjadi 23,97 juta ton pada 2025. Kenaikan tersebut mencerminkan penguatan kapasitas produksi sekaligus peningkatan daya saing industri baja domestik di pasar global.
"Impor baja yang sempat mencapai 17,9 juta ton pada 2022 berangsur turun menjadi 14,8 juta ton pada 2025. Perkembangan itu menggeser neraca perdagangan dari posisi defisit menjadi surplus sebesar 18,09 juta ton," kata dia dilansir dari Antara, Rabu (4/2/2026).
Faisol menyebut tren surplus tidak lepas dari kebijakan hilirisasi, peningkatan produksi dalam negeri, faktor harga global, serta perubahan rantai pasok akibat tekanan geopolitik. "Ekspor baja nasional juga menunjukkan kinerja kuat. Pada 2024, nilai ekspor baja Indonesia tercatat mencapai USD29,23 miliar," jelasnya.
Struktur pasar ekspor baja Indonesia masih didominasi kawasan Asia Pasifik. Lima negara tujuan utama adalah Tiongkok dengan nilai ekspor USD16,11 miliar, diikuti Taiwan, India, Australia, dan Vietnam. Posisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam.
Menurut Faisol, capaian itu menjadi modal penting untuk memperluas pangsa pasar ekspor. Pemerintah mendorong penguatan kapasitas produksi melalui peningkatan utilisasi industri baja nasional agar mampu memenuhi permintaan global yang terus tumbuh.
Berdasarkan data World Steel Association, total produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton. Tiongkok menjadi produsen terbesar dengan produksi sekitar 960,8 juta ton atau 51,9% dari total global, disusul India sebesar 164,9 juta ton atau 8,9%.