Krisis RAM Gara-Gara AI Bakal Panjang dan Berlarut

Kebutuhan chip memori untuk AI semakin masif, para analis memperkirakan krisis global yang berimbas pada kenaikan harga produk teknologi. --FOTO NOTEBOOK CHECK

BANDARLAMPUNG – Dunia teknologi tengah menghadapi persoalan baru yang dampaknya perlahan mulai terasa hingga ke tangan konsumen: krisis memori global.

 

Lonjakan pesat pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong kebutuhan besar terhadap chip memori, khususnya RAM, hingga menciptakan ketimpangan serius antara permintaan dan pasokan.

 

Situasi ini diperkirakan akan memicu kenaikan harga berbagai perangkat teknologi, mulai dari ponsel pintar, komputer, hingga konsol gim.

 

Ledakan investasi pada pusat data dan komputasi awan berbasis AI menjadi faktor utama di balik masalah ini. Data center modern yang dirancang untuk melatih dan menjalankan model AI berskala besar membutuhkan memori dalam jumlah masif. Salah satu kasusnya adalah Apple yang memborong RAM dari Samsung.

 

Aksi ini dilakukan karena Apple berencana meningkatkan kemampuan AI yang membutuhkan RAM dengan perfoma maksimal.

 

Tidak lagi sekadar besar, tetapi juga cepat, stabil, dan terintegrasi dekat dengan prosesor grafis berkinerja tinggi. "Saya selalu bilang ke semua orang, kalau ingin membeli perangkat elektronik, belilah sekarang," ujar Avril Wu, Senior Research Vice President TrendForce pada NPR.

TrendForce merupakan lembaga konsultan berbasis di Taiwan yang memantau pasar komponen komputer global. Wu bahkan mengaku sudah lebih dulu membeli iPhone 17, sebagai langkah antisipasi kenaikan harga akibat kelangkaan komponen.

 

Chip yang dimaksud adalah RAM atau random access memory, komponen vital yang memungkinkan perangkat menjalankan banyak aplikasi secara bersamaan tanpa hambatan.

Tag
Share