Deepfake Bisa Memicu Perang Nuklir Dunia
Ilustrasi nuklir Tiongkok. --FOTO ANDY WONG/AP
JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan (AI), terutama teknologi deepfake, kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas keamanan nuklir global. Manipulasi konten audio visual yang kian canggih berisiko memicu salah pengambilan keputusan strategis oleh para pemimpin negara bersenjata nuklir.
Laporan majalah Foreign Affairs pada Senin (29/12/2025) menyebutkan, deepfake mampu menciptakan disinformasi yang sangat meyakinkan. Hal ini berpotensi memicu serangan pendahuluan jika suatu negara tertipu oleh informasi palsu yang mengeklaim bahwa mereka sedang diserang.
Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik UNDP Philip Schellekens memperingatkan, penerapan AI di sektor militer merupakan ancaman eksistensial bagi manusia. Penggunaan teknologi ini tanpa regulasi yang ketat dapat mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam skala masif secara seketika.
"Teknologi ini harus diatur agar digunakan secara sangat bertanggung jawab," tegas Schellekens.
Risiko utama muncul dari kemungkinan pelimpahan wewenang pengambilan keputusan penggunaan senjata nuklir kepada sistem berbasis AI. Tanpa pertimbangan moral manusia, algoritma dapat merespons data palsu dengan serangan balasan yang mematikan. Deepfake secara signifikan telah menghilangkan hambatan teknis dalam memproduksi kebohongan yang terlihat otentik.
Selain risiko serangan langsung, teknologi ini juga dapat disalahgunakan untuk merekayasa alasan perang atau memanipulasi dukungan publik demi kepentingan konflik tertentu. Manipulasi AI mampu memicu perpecahan masyarakat dan merusak kepercayaan antarnegara di tengah ketegangan geopolitik dunia.
Kondisi tersebut menempatkan dunia pada situasi yang rentan. Percepatan regulasi global menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan kecerdasan buatan tidak menjadi pemicu kiamat nuklir akibat informasi yang direkayasa oleh mesin. Keselamatan publik kini bergantung pada sejauh mana negara-negara mampu membedakan antara ancaman nyata dan manipulasi algoritma. (beritasatu.com)