Black Friday, dari Kekacauan hingga Jadi Hari Diskon Terbesar
--FOTO BIZKETTE1-FREEPIK
JAKARTA - Black Friday adalah momen belanja besar-besaran yang biasanya jatuh pada Jumat keempat bulan November, tepat sehari setelah perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat.
Hari ini dikenal sebagai penanda dimulainya musim belanja Natal, karena hampir semua toko—baik offline maupun online—memberikan promo besar-besaran.
Menariknya, Black Friday kini tak hanya populer di Amerika. Even diskon ini sudah mendunia dan ikut dirayakan di banyak negara, termasuk Indonesia, terutama melalui marketplace dan brand-brand global yang rutin memberikan potongan harga khusus.
Black Friday punya sejarah yang cukup unik. Awalnya, istilah ini tidak berkaitan dengan diskon, melainkan menggambarkan suasana kota yang semrawut setelah Thanksgiving.
1. Awal Mula: ’’Hari Macet dan Keramaian”
Pada era 1960-an, istilah Black Friday mulai populer di Philadelphia, Amerika Serikat. Polisi menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kondisi jalan yang padat, kerumunan ekstrem, dan kekacauan di pusat perbelanjaan sehari setelah Thanksgiving.
2. Makna Positif: Toko Mulai “Untung”
Seiring waktu, para pedagang mengubah citra Black Friday menjadi lebih positif. Mereka mengaitkannya dengan pembukuan bisnis: “Merah” berarti rugi dan “Hitam” berarti untung. Karena penjualan naik drastis pada hari itu, Black Friday dianggap sebagai titik awal toko “masuk zona untung” menjelang akhir tahun.