Tok, Gus Yahya Kembali Jabat Ketum PBNU

Rapat Konsultasi Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (25/12). -FOTO IST -

KEDIRI – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah, K.H. Muhibul Aman, menyampaikan keputusan hasil Rapat Konsultasi Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang digelar bersama para mustasyar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Kamis (25/12) bersifat final, sah, dan mengikat.
“Rapat ini mempertemukan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf juga dihadiri para mustasyar dan kiai sepuh NU,” ujar Muhibul Aman dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari beritasatu.
Muhibul Aman menjelaskan, dirinya diberi kepercayaan sebagai moderator untuk menengahi jalannya pembicaraan yang diselenggarakan untuk ishlah, peneguhan adab jam’iyyah, dan pengembalian tata kelola organisasi.
Musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan penting untuk mengakhiri polemik dan konflik internal di dalam tubuh NU, sekaligus menegaskan kembali kepemimpinan sah hasil Muktamar ke-34, yakni Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU, yang akan mempersiapkan Muktamar ke-35 NU.
Aman menegaskan, keputusan rapat ini selaras dengan anggaran dasar NU Pasal 7 dan 8 tentang prinsip musyawarah dan kepemimpinan kolektif. Berdasarkan AD/ART NU Pasal 9, 10, 16, dan 17, mekanisme pemberhentian ketua umum PBNU maupun pengangkatan penjabat ketua umum PBNU hanya dapat dilakukan melalui forum Muktamar.
Oleh karena itu, seluruh keputusan, pernyataan, dan tindakan sepihak yang menyatakan pemberhentian ketua umum PBNU atau pengangkatan penjabat ketua umum PBNU dinyatakan tidak sah, batal demi hukum organisasi, dan tidak memiliki legitimasi jamiyah Nahdlatul Ulama.
“Dengan demikian, kepemimpinan NU dari hasil Muktamar ke-34 adalah kepemimpinan yang sah, legal, konstitusional, tidak pernah gugur, serta tak bisa dibatalkan oleh tindakan sepihak apa pun di luar mekanisme Muktamar,” tegas Aman.
Muhibul Aman juga menyerukan kepada seluruh warga dan struktur NU untuk menghentikan polemik, kembali pada adab ber-jamiyah, serta menaati keputusan musyawarah. Ia mengajak seluruh elemen NU mendukung konsolidasi organisasi demi suksesnya Muktamar ke-35.
“Setiap bentuk pengingkaran terhadap keputusan rapat konsultasi Syuriyah dengan mustasyar PBNU merupakan pelanggaran adab bamiyah dan tata tertib organisasi, yang pada akhirnya hanya akan merugikan NU itu sendiri,” tutupnya.
Sebelumnya, Forum Konsultasi Syuriah bersama mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang digelar di Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, menghasilkan keputusan strategis bagi masa depan organisasi. Forum ini menyepakati pelaksanaan Muktamar NU akan segera digelar dalam waktu dekat.
Selain kesepakatan muktamar, forum tersebut juga menjadi momentum rekonsiliasi internal. Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh menyampaikan, bahwa Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, beserta jajaran syuriah menunjukkan kebesaran jiwa dengan menerima permohonan maaf Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Permohonan maaf tersebut berkaitan dengan insiden ketidakhati-hatian dalam mengundang Peter Berkowitz pada kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) beberapa waktu lalu.
“Sikap ini dipandang sebagai bagian dari tradisi NU yang menjunjung tinggi akhlak, tabayun, dan penyelesaian persoalan secara arif,” ujar Mohammad Nuh dalam keterangan tertulis, Kamis (25/12/2025).
PBNU menyambut baik hasil kesepakatan Lirboyo sebagai upaya menjaga ketertiban organisasi dan merawat keutuhan jamiah Nahdlatul Ulama. Nuh menjelaskan bahwa seluruh kesepakatan akan ditindaklanjuti secara konstitusional sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
“Forum berjalan khidmat dan penuh kebijaksanaan. Ada kesepahaman untuk melangkah ke depan. PBNU akan menyiapkan langkah teknis agar muktamar dapat terlaksana secara tertib, sah, dan bermartabat,” jelas mantan mendikbud tersebut.
Forum krusial ini dihadiri oleh jajaran petinggi NU, menunjukkan legitimasi kuat atas keputusan yang diambil. Selain rais aam dan Gus Yahya, tampak hadir dari jajaran mustasyar PBNU antara lain KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH Machasin.
Dari jajaran syuriah, hadir tokoh-tokoh, seperti KH Abdullah Kafabihi, KH Mu’adz Thohir, KH Imam Buchori, KH Idris Hamid, hingga sejumlah kiai muda (Gus) dari berbagai pesantren besar.
PBNU mengimbau seluruh warga Nahdliyyin untuk tetap tenang dan menjaga suasana kondusif. Organisasi memastikan bahwa transisi kepemimpinan dan mekanisme organisasi akan berjalan sesuai jalur yang telah disepakati bersama demi kepentingan umat. (beritasatu/c1/yud)

Tag
Share