Produksi Bahasa: Fondasi Terlupakan dalam Pembelajaran Berbicara
--FOTO ISTIMEWA
Oleh: Nurul Karimah
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unila
DALAM pembelajaran bahasa Indonesia, keterampilan berbicara sering dianggap kemampuan yang bisa berkembang ’dengan sendirinya’ selama siswa banyak berlatih. Padahal dari perspektif psikolinguistik, teori produksi bahasa Levelt (1989) bahwa berbicara terdiri atas tiga tahapan penting, yaitu konseptualisasi, formulasi, dan artikulasi. Ketika siswa gagal menjelaskan makna, membaca dengan terbata-bata, itu bukan sekadar kesalahan teknis. Namun, sinyal adanya hambatan pada proses mental tertentu yang tidak boleh diabaikan.
Dalam penelitian pembelajaran pantun di salah satu SMP Lampung Tengah, terlihat jelas bahwa beberapa siswa masih kesulitan menjelaskan makna pantun. Ada yang salah memaknai, ada yang malu, dan ada pula yang membaca terlalu cepat, sehingga makna pantun nyaris tak tertangkap oleh pendengar. Ini menunjukkan bahwa tahap konseptualisasi dan artikulasi tidak berjalan mulus. Rasa malu dan kurang percaya diri menjadi faktor afektif yang mengganggu proses mental tersebut.
Menariknya, siswa yang hanya berani berbicara setelah temannya memulai. Ini adalah refleksi dari dinamika sosial dalam kelas. Partisipasi verbal tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbahasa, tetapi juga oleh social modelling yaitu keberanian satu siswa bisa memicu keberanian yang lain. Keberhasilan beberapa siswa yang mampu membaca pantun dengan artikulasi jelas menunjukkan bahwa produksi bahasa dapat dilatih ketika guru memberi ruang, panduan, dan umpan balik.
Bisa disimpulkan bahwa membaca pantun dengan baik bukan hanya soal “berlatih lebih keras”, tetapi melibatkan aspek neurologis, kontrol motorik wicara, dan monitoring diri. Banyak siswa membaca terlalu cepat bukan karena mereka ingin cepat selesai, tetapi karena sistem monitor internal mereka terganggu oleh rasa gugup. Guru harus memahami bahwa pembelajaran pantun bisa menjadi ruang aman bagi siswa untuk membangun kemampuan berbicara secara bertahap dari membentuk gagasan, menyusun bahasa, hingga mengucapkannya dengan percaya diri dan estetis. Karena itu, pembelajaran pantun semestinya dilihat bukan hanya sebagai materi sastra, tetapi sebagai laboratorium produksi bahasa. (*)