Tiga Daerah di Lampung Waspada Bencana, BBWS dan BPJN Siagakan Alat Berat
Kepala BBWS Mesuji Sekampung Elroy Koyari dan Kepala BPJN Lampung Ali Duhari saat apel siaga bencana. - FOTO PRIMA IMANSYAH PERMANA/RADAR LAMPUNG -
BANDARLAMPUNG – Sejumlah wilayah di Lampung masuk kategori rawan banjir dan tanah longsor menjelang puncak musim penghujan.
Area yang paling sering terdampak antara lain Suoh di Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesisir Barat. Kondisi geografis yang dikelilingi perbukitan membuat kawasan tersebut rentan bencana hidrometeorologi.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, menyampaikan bahwa intensitas hujan diprediksi semakin meningkat mulai akhir tahun.
’’Selama ini yang paling sering terjadi banjir dan longsor ada di Suoh Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesisir Barat. Topografinya dikelilingi perbukitan sehingga air hujan cepat meluap,” ujar Elroy usai Apel Siaga Bencana yang digelar BBWS Mesuji Sekampung, Selasa (4/11).
Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026. Mengantisipasi hal tersebut, BBWS Mesuji Sekampung bersama sejumlah instansi seperti Bina Marga dan Cipta Karya telah menyiapkan peralatan mitigasi di titik rawan bencana.
“Sesuai arahan Pak Menteri, semua pihak harus berkolaborasi. Peralatan yang ada mungkin tidak dapat mengatasi banjir sepenuhnya, tetapi dapat mempercepat proses penanganan di lapangan. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah,” kata Elroy.
Sementara itu, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Lampung, Ali Duhari, menambahkan bahwa pihaknya telah menempatkan alat berat di beberapa lokasi rawan longsor seperti Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesisir Barat.
“Kami sudah menyiagakan ekskavator dan alat berat lainnya. Di Liwa sudah dilakukan penanganan permanen, sementara untuk daerah perbukitan kami siapkan peralatan darurat agar akses jalan tetap dapat dilalui,” jelas Ali.
Selain mitigasi bencana, BPJN juga melakukan persiapan menghadapi peningkatan volume kendaraan pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), termasuk penyediaan material pendukung dan peralatan tambahan untuk memastikan jalur tetap aman.
Langkah antisipatif BBWS Mesuji Sekampung dan BPJN Lampung ini menjadi bagian dari penguatan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Dengan potensi curah hujan tinggi pada awal tahun 2026, koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana di daerah rawan.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim hujan yang diprediksi terjadi mulai Oktober 2025 hingga awal 2026. Langkah ini diambil menyusul tingginya intensitas bencana hidrometeorologi sepanjang tahun berjalan.
Hingga September 2025, Lampung mencatat 119 kejadian banjir dan 41 tanah longsor di berbagai wilayah, angka yang disebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan bahwa kesiapan pemerintah tidak hanya terbatas pada penanganan darurat, tetapi juga mencakup mitigasi dan pencegahan jangka panjang.
’’Bukan hanya dalam aspek penanganan darurat, tetapi juga pada pencegahan dan mitigasi jangka panjang. Lampung harus benar-benar siap sebelum musim hujan datang,” ujarnya.