Pembangunan RSPTN dan IRC Unila Capai 74,58%

WORKSHOP: Workshop Pengelolaan RSPTN dan Pengembangan Sumber Daya Universitas di ruang sidang lantai dua gedung Rektorat Unila, Senin (20/10). --FOTO HUMAS UNILA

BANDARLAMPUNG - Progres pembangunan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Lampung (Unila) dan Pusat Penelitian Terpadu (IRC) telah mencapai 74.58 persen. Hal ini disampaikan PIU-HETI Project RSPTN dan IRC Unila oleh PIU Manager Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. saat iPengelolaan RSPTN dan Pengembangan Sumber Daya Universitas di ruang sidang lantai dua gedung Rektorat Unila, Senin (20/10). 

 

Prof. Satria menyampaikan, perkembangan loan agreement telah diperoleh Unila hingga detail rencana pembangunan RSPTN dan IRC. ’’Hingga saat ini, progres pembangunan RSPTN dan IRC telah mencapai 74,58 persen,” katanya. 

 

Dalam workshop, Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN.Eng. menekankan pentingnya tata kelola universitas yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan kesehatan, tetapi juga sebagai wahana pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

’’RSPTN merupakan bagian strategis dari tata kelola universitas yang telah lama dinantikan sejak 2010. Kami berharap pembangunan ini dapat diselesaikan pada 2026,” jelas Prof. Lusmeilia.

 

Sedangkan Direktur Sumber Daya Dirjen Diktisaintek Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T. dalam paparannya menjelaskan bahwa pendidikan tinggi harus berorientasi pada peningkatan akses, mutu, relevansi, dan dampak sesuai dengan misi Asta Cita. ’’ Sistem kesehatan akademik menjadi salah satu program strategis dalam upaya mewujudkan Diktisaintek Berdampak. Seperti kita ketahui bersama, melalui Diktisaintek Berdampak tentu kita perlu mengubah cara transformasi dari paradigma konvensional menjadi paradigma transformasional. Di mana, kita fokuskan pada kontribusi pendidikan tinggi kita,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Prof. Sri Suning menyatakan RSPTN dapat bertransformasi menjadi rumah sakit pendidikan utama yang unggul, modern, dan berdaya saing guna mendukung pencapaian misi Asta Cita. ’’Selain itu, kebijakan transformatif terkait pendidikan tenaga medis dan tenaga kesehatan. Termasuk pembaruan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran kini diselaraskan dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi serta standar global World Federation for Medical Education (WFME) untuk memastikan mutu dan relevansi pendidikan kedokteran di Indonesia tetap kompetitif secara internasional,’’ ungkapnya. (rls/c1)

 

Tag
Share