Ramadan Momentum Merekatkan Ukhuwah yang Retak Pasca Pemilu

Dr. Abdul Qodir Zaelani, S.H.I., M.A.--

Jangan sampai status WhatsApp diisi dengan hujatan, kata-kata yang tidak bermakna, statement yang dapat memancing perselisihan dan bersifat provokatif, yang justru dapat menghilangkan pahala puasa. 

Muslim yang bijak tidak ingin puasanya hanya dinilai menahan makan dan minum saja, tanpa bernilai pahala di sisi Allah SWT. 

BACA JUGA:Tips Bagi Penderita Diabetes Tetap Sehat Selama Berpuasa di Bulan Ramadan

Karena muslim yang bijak akan memahami sabda Nabi: “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidaklah mendapatkan apa-apa dari puasanya (di sisi Allah SWT) kecuali rasa lapar saja.”

Muslim yang bijak juga memahami secara substantif, bahwa puasa bukan hanya menahan dari lapar dan haus, menahan untuk tidak makan dan minum. Namun lebih dari itu, menahan dari hal yang sia-sia, hal yang tidak bermanfaat dan hal keji yang tidak diinginkan oleh agama. 

Muslim yang bijak memahami bahwa puasa juga menahan dari amarah, menahan untuk menshare berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Lalu, berita mengadu domba dan memicu perpecahan, serta menahan dari statemen provokatif yang dapat membangkitkan amarah orang lain yang berseberangan dengan dirinya.

BACA JUGA:Program Pembangunan Ambarawa, Jalan Masih Prioritas

Muslim yang bijak akan mengerti apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. “Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu menahan dari perkataan yang tidak bermanfaat dan menahan dari perbuatan keji. Apabila seseorang mencelamu atau berbuat jahil padamu maka katakanlah: “sesungguhnya aku sedang berpuasa. Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. 

 

Muslim yang bijak juga memahami hadis Nabi SAW: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan yang diharamkan pada saat berpuasanya seperti berdusta, bersumpah palsu, mengghibah orang, mengadu domba, kazhaf (menuduh zina), serta mencaci atau mencela) dan mengamalkannya, maka Allah SWT tidak butuh apa yang ditinggalkannya berupa makan dan minum.”

Karena itulah, mari di bulan Ramadan ini, hati dan pikiran difokuskan untuk mengisi hal positif yang mampu mendekatkan diri pada-Nya, menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi memicu pertentangan dan ketersinggungan.

Sehingga diharapkan di akhir Ramadan kelak menjadi hamba-Nya yang muttaqien, bertakwa pada Allah SWT. Aamiin. (gie/fik)

Tag
Share