Bukan Hanya Rupiah yang Melemah terhadap USD

RUPIAH MELEMAH: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjawab pertanyaan awak media di gedung Kemenko Bidang Perekonomian usai menggelar Rapat Kordinasi di Jakarta, Jumat (20/12).--FOTO SALMAN TOYIBI/JAWA POS
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan dalam sepekan terakhir. Pada perdagangan Jumat (20/12), mata uang RI itu ditutup menjadi Rp16.221,5 per dolar Amerika Serikat (AS) alias USD. Pemerintah pun lebih fokus pada penguatan devisa untuk memperkuat rupiah.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Negara-negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, dan Brasil turut mengalami tekanan mata uang.
"Depresiasi terhadap dolar (USD) bukan hanya Indonesia. Bahkan, Korea Selatan lebih dalam, Jepang lebih dalam. Kemudian ada negara lain, termasuk Brasil. Kita bicara year-to-date," ujar Airlangga di Jakarta.
Meski demikian, Airlangga menyebutkan bahwa pemerintah terus memantau kondisi pelemahan tersebut. Dia memastikan kondisi ekonomi tanah air masih resilien menghadapi dinamika yang terjadi. "Fundamental ekonomi kita relatif kuat, terlebih kalau dibandingkan dengan negara-negara lain," katanya.
Langkah-langkah pemerintah lebih terfokus pada penguatan devisa melalui dorongan ekspor dan investasi. Hal itu bertujuan menekan impor berbasis USD serendah-rendahnya sekaligus meningkatkan ekspor. Sehingga pemerintah berharap nilai tukar rupiah dapat lebih solid di masa mendatang.
Sejalan dengan itu, pemerintah juga akan memperpanjang waktu penempatan dana devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) tidak hanya tiga bulan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kebijakan tersebut diharapkan bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Airlangga menyebutkan bahwa pemerintah terus mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Terutama para pelaku usaha di sektor SDA. ’’Aturan yang sebelumnya kan tiga bulan. Nah, ini sekarang kami terus dengarkan masukan para pelaku usaha,’’ katanya.