Pembalap Rookie Indonesia Curi Perhatian di Tes Pramusim Moto3
UJI COBA: Veda Ega Pratama saat uji coba di Sirkuit Portimao di bawah guyuran hujan. Foto Instagram Veda Ega Pratama--
JAKARTA – Badai Marta yang mengguyur Portimao dan membuat lintasan berubah sangat basah justru menghadirkan satu sorotan utama: Veda Ega Pratama.
Rookie Moto3 asal Indonesia itu memilih tetap turun ke trek ketika banyak pembalap lain memutuskan menunggu aman di pit box.
Dalam situasi cuaca ekstrem tersebut, Veda bukan sekadar memburu catatan waktu. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk membangun fondasi teknis sekaligus mengasah ketahanan mental sebagai persiapan menyambut musim 2026.
Autodromo Algarve di Portimao selama ini dikenal sebagai sirkuit dengan karakter naik-turun tajam layaknya “roller coaster” yang memacu adrenalin.
Namun, pada tes pramusim Moto3 yang digelar 9–10 Februari 2026, kondisi trek berubah drastis akibat hujan deras yang turun tanpa henti.
Lintasan yang biasanya menantang kini menjelma menjadi arena penuh genangan. Di tengah situasi sulit tersebut, Veda tetap memilih melaju dan mencatat performa yang layak diapresiasi.
Tes hari pertama, 9 Februari 2026, diawali cuaca mendung dengan aspal yang klitschnass atau basah kuyup.
Ketika sejumlah pembalap senior bertahan di garasi, Veda dari Honda Team Asia menjadi satu dari 10 rider yang berani menjajal trek sejak pagi.
Bersama rekan setimnya Zen Mitani dan rookie Aspar, Marco Morelli, ia mencoba memahami karakter ban hujan di tengah guyuran air.
Walau data yang dikumpulkan tidak sepenuhnya ideal karena kondisi ekstrem, langkah tersebut memperlihatkan tekad kuatnya untuk terus belajar.
Veda mengakhiri hari pertama dengan waktu terbaik 2 menit 05,156 detik setelah menyelesaikan 34 lap.
Memasuki hari kedua, harapan lintasan mengering tak kunjung terwujud karena hujan dari badai Marta masih terus turun. Meski demikian, aktivitas di trek mulai meningkat menjelang siang.
Guido Pini dari Leopard Honda mencatat waktu tercepat 2 menit 01,242 detik. Angka tersebut terpaut hampir 15 detik dari rekor normal milik Jose Antonio Rueda, menggambarkan betapa lambatnya kondisi lintasan saat itu.
Sementara Veda menorehkan waktu terbaik 2 menit 02,545 detik dengan total 59 putaran pada hari kedua.