Ancaman Bencana Hidrometeorologi Terus Mengintai

Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, saat ditemui di ruangannya pada Selasa (13/1).-Foto Anaqotus Salsabila -

BANDARLAMPUNG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menegaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. 

Sejak jauh hari, BPBD bersama instansi terkait telah menginformasikan bahwa musim hujan periode 2025–2026 dimulai sejak 11 Oktober 2025 dan diperkirakan berlangsung hingga akhir Februari 2026.

Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa puncak musim hujan berada pada Desember, Januari, dan Februari.

BACA JUGA:Pemprov Dorong Literasi AI lewat Pelatihan AI Ready ASEAN

Informasi tersebut bahkan telah disampaikan sejak Agustus dan September 2025 melalui berbagai kanal peringatan dini.

“Peristiwa yang terjadi di Januari ini sebenarnya sudah kita ketahui sejak awal. Curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sudah kita prediksi sejak sebelum Oktober, dan ini terus berlangsung hingga akhir Februari,” kata Wahyu, Selasa (13/1).

Menurut Wahyu, tingginya curah hujan memunculkan sejumlah ancaman hidrometeorologi yang berpotensi berkembang menjadi bencana jika tidak diantisipasi dengan baik. 

Setidaknya terdapat empat jenis ancaman utama, yakni banjir, tanah longsor, angin kencang atau puting beliung, serta gelombang tinggi di wilayah perairan.

“Daerah rawan antara lain Tanggamus, Pesisir Barat, dan beberapa wilayah lainnya di Lampung. Ancaman ini bukan hanya banjir, tetapi kombinasi dari beberapa potensi bencana,” jelasnya.

Wahyu menekankan bahwa bencana hidrometeorologi sejatinya merupakan bencana berbasis prakiraan (forecasting), sehingga dapat diprediksi. 

Namun, eskalasi ancaman menjadi bencana kerap dipengaruhi oleh faktor manusia, terutama dalam pengelolaan lingkungan.

Ia mencontohkan, banjir secara sederhana dipicu oleh dua faktor utama, yakni kemampuan daya tampung air (catchment area) dan daya alir atau drainase. 

Ketika curah hujan tinggi tidak diimbangi dengan kapasitas daya tampung dan aliran air yang memadai, maka banjir menjadi tidak terelakkan.

“Masalahnya bukan di langit, tapi di bumi. Daya tampung menurun karena alih fungsi lahan yang tidak terkendali, rawa dijadikan perumahan, sementara sungai mengalami penyempitan dan pendangkalan. Dua-duanya bermasalah,” tegasnya.

Tag
Share