SDM Jadi Tantangan Perajin Tapis
Desti Septina (40), pemilik usaha Desti Tapis di Fajarbaru, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan.--FOTO SINTIA MAHARANI
Terdapat berbagai macam motif yang dibuat perajin usaha milik Desti. Di antaranya motif mata kibau, bintang, catur, belah ketupat, gajah, pucuk rebung, dan masih banyak lagi. "Dalam satu sarung biasanya memuat minimal empat macam motif," ujarnya.
Menurut Desti, tingkat kesulitan membuat suatu motif berbeda-beda. ’’Karena itu, hal ini menjadi salah satu faktor penentu harga kain tapis. Semakin sulit motif tersebut, maka semakin mahal pula harga jualnya. Contohnya motif mata kibau. Harga termurah dari sarung tapis milik Desti Rp500.000 dan termahal Rp5.000.000,’’ paparnya.
Customer tapis Desti berasal dari berbagai macam daerah. "Saya ada reseller dari Lampung Timur dan Tanggamus. Saya juga pernah dapat orderan dari Malaysia, Taiwan, Singapura, dan Hongkong," ucapnya.
Penjualan tapis miliknya dipasarkan juga melalui online, yakni melalui live TikTok. "Untuk sekarang omzet per bulan sekitar Rp10 juta-Rp20 juta. Kalau dulu sebelum Covid-19 bisa mencapai Rp50 juta," ucapnya.
Tantangan usaha tapis miliknya terletak pada sulitnya mendapatkan SDM yang memiliki potensi dalam membuat kain tapis. Hal ini membuatnya kesulitan untuk menambah jumlah perajin. "Bisa bertahan sejauh ini karena harga dari tapis kita tuh terjangkau. Sebab, kita memang produksi sendiri. Bukan beli di tempat lain, lalu dijual lagi. Untuk harga lebih terjangkau di sini," ungkap Desti. (*)