Indonesia Berpotensi Kembangan Kendaraan Hidrogen
Ilustrasi kendaraan hidrogen. -FOTO FREEPIK -
Contohnya, SPBH yang ada saat ini masih berpusat di beberapa lokasi terbatas (misalnya, Hydrogen Refueling Station/HRS di Senayan) dan perlu investasi besar agar menjangkau koridor logistik yang lebih luas.
Pengujian awal ini akan menentukan seberapa cepat Indonesia dapat mengadopsi lebih banyak kendaraan FCEV.
Kendaraan hidrogen menawarkan beberapa keunggulan teknis yang menjadikannya pilihan menarik, terutama jika dibandingkan dengan BEV dalam konteks tertentu. Keunggulan ini sangat relevan mengingat tantangan geografis dan kebutuhan mobilitas di Indonesia.
Pertama, emisi rendah hingga nol. FCEV hanya menghasilkan uap air saat beroperasi, menjadikannya kendaraan zero emission di jalanan.
Namun, pengurangan emisi keseluruhan sangat bergantung pada cara hidrogen diproduksi (apakah menggunakan hidrogen hijau atau green hydrogen yang lebih ramah lingkungan, atau hidrogen abu-abu yang berasal dari bahan bakar fosil).
Kedua, jarak tempuh jauh. FCEV dikenal memiliki jarak tempuh (range) yang umumnya lebih panjang dalam sekali pengisian penuh dibandingkan dengan BEV pada generasi saat ini. Jarak tempuh yang panjang ini sangat ideal untuk perjalanan antarkota atau antarprovinsi.
Ketiga, pengisian cepat. Menurut klaim pabrikan dan fasilitas HRS pilot project, pengisian bahan bakar hidrogen dapat selesai dalam beberapa menit pada fasilitas bertekanan tinggi (seperti 350 atau 700 bar).
Waktu pengisian yang singkat ini meminimalkan downtime, menjadikannya solusi yang efisien untuk kendaraan komersial dan logistik.