Lampung Catat Inflasi Terendah ke-4 Nasional, Harga Minyakita Jadi Penopang

Lampung menempati peringkat empat nasional sebagai provinsi dengan inflasi terendah secara year-on-year, berkat pengendalian harga komoditas pokok seperti Minyakita.-FOTO IST -

Salah satu faktor utama keberhasilan Lampung dalam menekan inflasi adalah stabilnya harga minyak goreng rakyat (Minyakita), yang bahkan dijual di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter di seluruh 15 kabupaten/kota.

Pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per 10 Oktober 2025 mencatat, rata-rata harga Minyakita di Lampung sebesar Rp15.671 per liter. 

Ketersediaan dan distribusinya diperkuat melalui Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog yang tersebar di pasar-pasar kabupaten/kota.

Masyarakat dapat membeli Minyakita sesuai HET di RPK Bulog pada lokasi berikut: Lampung Selatan: Pasar Pemda Kalianda; Lampung Barat: Pasar Liwa; Lampung Tengah: Pasar Daerah Bandar Jaya; Lampung Utara: Pasar Sentral Kotabumi; Lampung Timur: Pasar Purbalinggo; dan Pesawaran: Pasar Sukaraja, Gedong Tataan. 

Pringsewu: Pasar Rakyat Gadingrejo; Mesuji: Pasar Simpang Pematang; Tulang Bawang Barat: Pasar Panaragan Jaya; Tanggamus: Pasar Kota Agung; Pesisir Barat: Pasar Way Batu; Tulang Bawang: Pasar Unit 2; Way Kanan: Pasar Baradatu; Kota Metro: Pasar Kopindo; dan Kota Bandar Lampung: RPK Bulog di Pasar Tugu, Pasar Gintung, Panjang, Way Halim, Kangkung, Way Kandis, dan Tamin.

Stabilnya harga Minyakita di bawah HET menjadi salah satu faktor penopang utama turunnya tekanan inflasi, terutama dari kelompok kebutuhan pokok rumah tangga.

Kondisi ini menunjukkan komitmen nyata Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat. 

Sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam paparannya menyampaikan bahwa tingkat inflasi nasional September 2025 tercatat sebesar 2,65% (year-on-year) dan 0,21% (month-to-month). 

Adapun inflasi Lampung pada periode yang sama sebesar 1,17% (year-on-year), menempati peringkat keempat terendah dari seluruh provinsi di Indonesia. Artinya, inflasi Lampung lebih rendah dari rata rata nasional. 

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, yakni 0,38% dengan andil terhadap inflasi 0,11%. Komoditas utama penyumbang inflasi di antaranya cabai merah, daging ayam ras, dan cabai hijau.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, terutama akibat meningkatnya harga emas perhiasan.

Sementara, jajaran Petinggi Pemprov Lampung mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara daring yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Ruang Command Center Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Senin (6/10/2025).

Dalam arahannya, Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir meminta pemerintah daerah yang mengalami inflasi tinggi pada September 2025—di atas rentang sasaran inflasi nasional 1,5% hingga 3,5%—terutama daerah yang tidak memiliki hambatan distribusi, untuk segera melakukan pengecekan lapangan guna memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga bahan pokok bagi masyarakat.

Tomsi menekankan pentingnya langkah antisipatif berbasis data dalam pengendalian inflasi daerah. Ia meminta setiap pemerintah daerah untuk menganalisis tren harga selama tiga tahun terakhir guna memprediksi potensi kenaikan harga komoditas tertentu di bulan-bulan mendatang.

“Saya minta agar dipelajari data tiga tahun ke belakang, lalu dilihat dan dianalisis. Misalnya, jika bulan depan harga komoditas tertentu berpotensi naik, segera dilakukan langkah antisipatif, komunikasi, dan koordinasi agar harga tidak benar-benar naik. Ini baru namanya bekerja dengan perencanaan, bukan sekadar pemadam kebakaran,” ujar Tomsi Tohir.

Tag
Share