Dengan model ini, Prism tidak hanya membantu pemformatan dokumen, tetapi juga mendukung aktivitas riset secara substansial.
Dalam demo OpenAI, seorang karyawan OpenAI menunjukkan bagaimana Prism dapat mencari literatur ilmiah yang relevan, menggabungkan referensi dari berbagai sumber tepercaya, serta mengotomatiskan penulisan bibliografi sesuai standar jurnal.
Fitur ini berpotensi memangkas waktu yang biasanya dihabiskan peneliti untuk pekerjaan administratif dan teknis.
Menanggapi kekhawatiran tentang risiko AI menghasilkan kutipan palsu, Wakil Presiden Sains OpenAI Kevin Weil menegaskan peran AI bersifat asistif, bukan pengganti tanggung jawab ilmuwan.
“Semua ini tidak membebaskan ilmuwan dari tanggung jawab untuk memverifikasi referensi mereka benar, tetapi tentu saja dapat mempercepat prosesnya,” kata Weil.
Ia juga menyoroti tantangan yang muncul seiring meningkatnya kemampuan AI dalam dunia akademik.
“Kami sadar bahwa, seiring dengan semakin mampunya AI, terdapat kekhawatiran seputar volume, kualitas, dan kepercayaan terhadap komunitas ilmiah,” ungkap Weil.
“Pandangan kami adalah mengintegrasikan AI langsung ke dalam alur kerja ilmiah dengan cara yang menjaga akuntabilitas dan memastikan peneliti tetap memegang kendali,” tambahnya.